SEJARAH PS PARTISAN SILIWANGI

PS Partisan Siliwangi didirikan oleh Ama Raden Puradiredja yang mempunyai ayah bernama Raden Adhimiarsa dan Ibu Nyi Mas Yati, dimana sang ayah adalah keturunan langsung dari Dalem Aria Wangsa Goparana dari Sagalaherang, PS Partisan Siliwangi berdiri tanggal 2 Juli 1922 dengan tujuan membangun nasionalisme tinggi untuk membebaskan diri dari penjajah disertai membentuk ahlak, moral yang baik dengan tidak membedakan ras, suku ataupun agama. Adapun salah satu cara beliau memberikan pendidikannya adalah dengan kesenian Pencak Silat. Pencak Silat yang beliau ajarkan kepada murid muridnya, bukanlah sekedar gerakan, jurus biasa saja tetapi disertai dengan ajaran dan pendidikan yang luhur, dimana sang murid harus menjalankan ajaran tersebut dalam kesehariannya. Salah satu ajaran yang harus dijalankan oleh sang murid adalah pantangan 5 M, yaitu Maling, Madat (narkoba), Madon (main wanita), Minum (mabuk-mabukan), Maen (judi).
Selain menerapkan ajaran, Ama Raden Puradireja juga mengajarkan kepada murid-muridnya agar senantiasa berdoa kepada Tuhan YME, salah satu doa yang sering beliau ajarkan dan doa ini menjadi dasar/landasan seorang anggota PS Partisan Siliwangi adalah dengan membaca solawat. Disamping Pencak Silat, Ama Raden Puradireja juga mendidik para muridnya agar rajin mencari nafkah sehari hari seperti bertani, berdagang, nelayan, dll. Kepada murid muridnya Ama Raden Puradireja mengajarkan bagaimana cara bertani yang baik, sehingga petani mendapatkan hasil yang baik, untuk pedagang juga dididik agar menjadi pedagang yang baik sehingga memperoleh untung banyak, dsb. Dalam waktu singkat PS Partisan Siliwangi menarik perhatian masyarakat banyak, dengan disertai banyak pengikutnya pula.
Ketika pecah perang revolusi PS Partisan Siliwangi ikut pula perang melawan Belanda dengan bergabung dengan Divisi Siliwangi pimpinan Brigjen (Purn) Sadikin yang merupakan Pangdam Siliwangi saat itu bahkan PS Partisan Siliwangi juga ikut long march ke Yogyakarta yang menjadi legendaris. Setelah perang revolusi, Ama Raden Puradireja mendapat penghargaan bintang gerilya yang diberikan langsung oleh Ir Soekarno yang merupakan presiden saat itu, bahkan beliau ditawari menjadi bupati Cianjur oleh Presiden Soekarno, tetapi jabatan itu beliau tolak halus, dengan alasan adalah karena beliau lebih senang mendidik masyarakat. Karena jasa Ama Raden Puradireja sangat besar kepada Negara, akhirnya pemerintah memberikan tanah untuk kesejahteraan anggota PS Partisan Siliwangi di Lampung, berikutnya tahun 1952 -1956 PS Partisan Siliwangi beserta keluarga menjadi perintis transmigrasi ke lampung dengan jumlah kira kira 20.000 jiwa. Sebuah jumlah yang sangat banyak pada waktu itu, dan perlu diketahui tidak semua anggota PS Partisan Siliwangi ikut transmigrasi ke Lampung. Jumlah anggota PS Partisan Siliwangi yang ikut transmigrasi ke Lampung hanya sebagian kecil dari semua anggota PS Partisan Siliwangi yang tersebar dari Banten, Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Cirebon, Bandung dan kota kota lainnya di pulau jawa.
Saat ini di Lampung, trasmigran PS Partisan Siliwangi sudah menempati beberapa kecamatan di Lampung, bahkan banyak pula dalam 1 kecamatan yang penduduknya anggota PS Partisan Siliwangi semua, jumlah mereka sudah mencapai jutaan, sebagian besar mereka sebagai petani kopi, lada, coklat, dll. Sebagaimana diketahui kopi adalah sentral penghasil kopi terkenal, juga lada yang harganya sangat mahal, tentunya kondisi ini memberikan keuntungan bagi petani kopi, lada khususnya petani PS Partisan Siliwangi, sudah tentu hal ini meningkatkan taraf hidup mereka, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang dapat naik haji dari hasil panen kopi dan lada.
Salah satu kegiatan rutin PS Partisan Siliwangi saat ini adalah merayakan maulid Nabi Muhammad SAW di rumah almarhum Ama Raden Puradireja, sekaligus ziarah ke makam beliau di Sagalaherang. Acara ini bukan hanya dihadiri oleh anggota PS Partisan Siliwangi saja tetapi khalayak ramai dari segala lapisan, mereka itu datang dari Lampung, Banten, Jakarta, Karawang, Cirebon, Kalimantan, Maluku, dll, total yang hadir di acara ini mencapai puluhan ribu orang.
Demikian besar Ama Raden Puradireja mengabdi kepada bangsa dan negara, ketika masa penjajahan, beliau mendidik murid muridnya agar mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi, lalu saat pecah perang kemerdekaan/revolusi beliau tampil di depan bersama murid muridnya mengusir penjajah, dan setelah perang revolusi usai (merdeka) beliau isi dengan pembangunan, semua itu dilakukan dengan tanpa meminta pamrih apapun hal itu terlihat ketika beliau menolak dengan halus permintaan Presiden Soekarno untuk menjadikan beliau sebagai bupati. Ajaran ini pula yang selalu ditekankan kepada murid muridnya agar selalu mengabdi kepada bangsa dan Negara dengan tidak mengharapkan pamrih.
Kini walaupun Ama Raden Puradireja sudah wafat, hasil jerih payah beliau masih bisa dirasakan bukan hanya oleh anggota PS Partisan Siliwangi tetapi semua umat manusia di muka bumi ini.